2. REVIEW JURNAL PERKEMBANGAN AKUNTANSI INTERNASIONAL

Nama Jurnal
Jurnal “Tata Arta” UNS
Volume / Halaman
Vol. 2 No. 1 Halaman 39 - 51
Judul Jurnal
STUDI LITERATUR TENTANG PENERAPAN INTERNATIONAL FINANCIAL REPORTING STANDARDS (IFRS) PADA PERUSAHAAN YANG LISTING DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI) TAHUN 2011
(Studi Kasus pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, dan Bank Central Asia Tbk)
Nama Penulis
Joko Sarwono, Sri Witurachmi, Sohidin
Tanggal Jurnal
Januari 2016
Download
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjawab pertanyaan mengenai; 1) Kendala yangdihadapai dalam proses adopsi IFRS di Indonesia. 2) Manfaat bisnis yang didapatkan oleh perusahaan publik dalam menerapkan IFRS, 3) Dampak Positif apa yang diperoleh perusahaan setelah mengadopsi IFRS.
Metode Penelitian
Metode yang digunakan adalah deksriptif kualitatif diana data diperoleh melalui data sekunder berupa archival report dan penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian. Pengambilan sampel dengan cara purposive sampling serta studi kepustakaan dalam mengumpulkan data. Melalui triangulasi sumber data diharapkan data yang diperoleh lebih beragam dan lebih meyakinkan untuk mendapatkan kesimpulan sementara.
Variabel Penelitian
-
Hasil Penelitian
Dampak penerapan IFRS sangat beragam, tergantung dari jenis perusahaan yang menerapkannya. Karena jenis transaksi, elemen laporan keuangan yang dimiliki, dan juga pilihan kebijakan akuntansi juga mempengaruhi proses adopsi. Hal ini karena IFRS mengharuskan perusahaan melakukan peninjauan atas sistem dan prosedur akuntansinya. Beberapa standar menharuskan perusahaan melakukan atas penggunaan estimasi pada tanggal pelaporan untuk menguji apakan estimasi yang dilakukan masih valid untuk digunakan. SOP akuntansi harus memasukkan prosedur untuk melakukan review dalam mengadopsi peraturan yang ada di dalam standar tersebut (Martani, 2012).
Kesimpulan
Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa kendala yang dihadapi dalam penerapan IFRS di Indonesia adalah, (1) Kurang siapnya SDM. (2) Kelemahan Pada Proses transliterasi/penerjemahan bahasa Inggris dalam standar IFRS ke dalam Bahasa Indonesia (3) Biaya yang mahal.
Selain kendala yang dihadapi, terdapat juga dampak bisnis penerapan IFRS di Indonesia oleh perusahaan publik. Hal tersebut adalah, (1) Akses kependanaan internasional akan lebih terbuka karena laporan keuangan akan lebih mudah dikomunikasikan ke investor global. (2) Relevansi laporan keuangan akan meningkat karena lebih banyak menggunakan nilai wajar, (3) Kinerja keuangan (laporan laba rugi) akan lebih fluktuatif apabila harga-harga fluktuatif, (4) Smoothing income menjadi semakin sulit dengan penggunakan balance sheet approach dan fair value.
Selain itu manfaat yang diperoleh bagi perusahaan public setelah mengadospi IFRS tentulah berbeda antar satu jenis industri dengan industri yang lain. manfaat positifnya hampir seragam yakni membaiknya kondisi keuangan perusahaan.
Pendapat Mengenai Jurnal
Perlunya suatu perusaahaan mengadopsi IFRS merupakan salah satu cara menyempurnakan standar akuntansi bagi pencatatan laporan keuangan karena dengan cara itu laporan keuangan perusahaan-perusahaan publik di Indonesia memenuhi prinsip akuntabilitas secara internasional dan mampu diperbandingkan dengan laporan perusahaan luar negeri. Dengan demikian dapat memberikan sumbangan positif terkait manfaat yang dapat diperoleh perusahaan-perusahaan asal Indonesia di mata dunia internasional dan investor.
Jurnal tersebut sudah bagus penjelasannya hanya saja dalam jurnal tersebut tidak memuat variable yang digunakan.

1. REVIEW JURNAL AKUNTANSI INTERNASIONAL




Nama Jurnal
Jurnal Akuntansi dan Keuangan
Volume / Halaman
Vol. 2 No. 2 Halaman 104 - 117
Judul Jurnal
PENGADOPSIAN IFRS 3 PADA GOODWILL DALAM KOMBINASI BISNIS
(Studi Literatur)
Nama Penulis
Amilia Yunizar Esfandari
Tanggal Jurnal
Oktober 2013
Download
Tujuan Penelitian
-
Metode Penelitian
-
Variabel Penelitian
-
Hasil Penlitian
Pengadopsian IFRS 3 ini memberikan banyak dampak dalam kombinasi bisnis. Dalam IFRS 3, goodwill lebih merujuk kepada manfaat ekonomi masa depan. Suatu asset mencerminkan manfaat ekonomi masa depan yang timbul dari aset lainnya yang diperoleh dalam kombinasi bisnis yang tidak dapat diidentifikasi secara individual dan diakui secara terpisah. PSAK 22 (reformat 2007) mensyaratkan bahwa goodwill harus diamortisasi sebagai beban selama masa manfaatnya. Namun, IFRS 3 dan PSAK 22 (revisi 2010) menetapkan bahwa goodwill tidak lagi diamortisasi melainkan diuji penurunan nilai setiap akhir periode dan nilai tercatat atas akumulasi amortisasi dieliminasi (IFRS 3: paragraf B69 d dan b dan PSAK 22 revisi 2010 paragraf 65). Untuk goodwill negatif, yang timbul tidak akan diakui lagi sebagai pendapatan yang ditangguhkan melainkan diakui sebagai keuntungan periode berjalan. Goodwill negatif terjadi ketika biaya perolehan lebih rendah daripada bagian (interest) pengakuisisi atas nilai wajar aset dan kewajiban yang dapat diidentifikasi (PSAK 22 reformat 2007 paragraf 46). Pengaruh lain dalam penerapan IFRS adalah tidak digunakannya lagi metode pooling of interest dan hanya akan digunakan purchasing method atau metode akuisisi. Implikasi atas ini adalah nilai goodwill yang tercatat akan lebih besar. Bitter dan Rinker menjelaskan penggunaan pooling of interest tidak lagi digunakan karena penerapannya didasarkan pada nilai buku, yang mana pencatatannya secara retrospektif (berlaku surut). Sedangkan purchasing method mencatat aset dan kewajiban perusahaan yang diakuisisi pada nilai wajar. Imbalan kontinjensi (contingent consideration) juga terpengaruh akibat penerapan IFRS 3. Hal lain yang terpengaruh atas penerapan IFRS 3 adalah mengenai biaya akuisisi. Dalam akuisisi, terjadi biaya-biaya yang berhubungan dengan biaya akuisisi seperti biaya jasa pengacara, akuntan, appraisal, dan biaya pihak ketiga yang lain (Publikasi Ernst & Young, 2008:5). Jadi, praktik sebelum IFRS diadopsi masih mengakui biaya akuisisi sebagai bagian dari kombinasi bisnis atau dengan kata lain biaya tersebut dikapitalisasi, yang perhitungan goodwill juga akan terpengaruh. Pemisahan biaya-biaya tersebut dari nilai wajar bisnis yang diakuisisi akan membuat nilai goodwill menjadi tetap atau cenderung menurun.
Kesimpulan
Goodwill diperlakukan sebagai intangible asset dengan umur tidak terbatas dan bukan menjadi subjek amortisasi. Melainkan diuji penurunan nilainya setiap akhir periode. Dan nilai akumulasi amortisasi goodwill yang telah tercatat akan dieliminasi. Goodwill negatif tidak akan lagi diakui sebagai pendapatan yang ditangguhkan melainkan langsung sebagai keuntungan yang dicatat dalam laporan laba rugi. Tidak diperkenankannya lagi penggunaan metode pooling of interest dan disyaratkan menggunakan metode purchasing accounting. Sehingga, semua asset (termasuk goodwill) dan kewajiban dinilai pada nilai wajar. Goodwill dalam kombinasi bisnis yang dilakukan secara bertahap akan dihitung secara terpisah untuk setiap transaksi pembelian. Saat ini biaya akuisisi dihitung secara terpisah atau dengan kata lain, tidak lagi dimasukkan dalam biaya kombinasi bisnis. Biaya akuisisi akan dibebankan pada periode terjadinya. Akibatnya perhitungan goodwill akan mengalami penurunan.
Pendapat Mengenai Jurnal
Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan dapat memberikan maanfaat dan pengetahuan lebih bagi pembaca mengenai konvergensi IFRS ke dalam PSAK akan membawa pengaruh yang cukup besar bagi bisnis di Indonesia. Hal ini dikarena itu Standar akuntansi keuangan melakukan proses konvergensi secara penuh
dengan IFRS. Namun dalan jurnal ini tidak memuat tujuan penelitian, metode penelitian, dan variable apa yang digunakan. Hal tersebut disayangkan Karena dengan tidak adanya hal tersebut membuat pembaca kurang puas.

 

Welcome © 2010. Design By: SkinCorner | Provided By Free Blogger Templates | Freethemes4all.com